The Greatest Indonesia Show Movie


The Greatest Indonesia Show Movie bersama Brandon dan Ginanti

Dalam rangka penutupan Communication Summit ke-3, program studi ilmu komunikasi Universitas Bunda Mulia mengadakan seminar nasional dengan judul The Greatest Indonesia Show Movie yang diselenggarakan pada hari Kamis, 26 April 2018 di The UBM Grand Auditorium, Jakarta. Acara kali ini mengangkat tema industri film di Indonesia yang perlahan mulai bangkit dan mulai di apresiasi oleh masyarakat Indonesia.
Acara dimulai dengan pembukaan yang diisi oleh penampilan dance dan standup comedy oleh mahasiswa Universitas Bunda Mulia. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan sambutan dari Bapak Dr., Drs., Sugeng Wahyudi, M.Si selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bunda Mulia dan dilanjutkan oleh Bapak Yuri Alfrin Aladdin, S.E., M.Si, M.I.Kom selaku ketua acara dari Communication Summit 2018 yang ke 3.
Acara ini di moderatori oleh Bapak Nico Setiawan Susilo, S.IKom., MFA. Dan Ibu Fanty Pratiwi Meita, S.IKom, M.IKom. selaku dosen program studi Ilmu Komunikasi Universitas Bunda Mulia Serpong. Acara ini dimeriahkan oleh 2 bintang tamu yaitu, Brandon Salim selaku aktor papan atas di industri film di Indonesia serta Ginanti Rona selaku sutradara dari film Midnight Show 2016.
Dalam acara ini kedua bintang tamu menceritakan bagaimana awal mula mereka terjun di dunia industri film di Indonesia. Dimulai dari Ginanti Rona, ia mengaku bahwa ia tertarik untuk mengetahui bagaimana cara membuat film ketika ia menyaksikan film Jurrasic Park. Mulai dari sana ia mulai mengagumi sutradara perempuan dan akhirnya bercita-cita menjadi sutradara film.
Berbeda dengan Ginanti Rona, Brandon Salim memulai karirnya dari bermain musik, ia terjun dengan membentuk sebuah band. Namun dirasakannya, bandnya tidak mengalami kemajuan yang berarti sehingga ia meninggalkan dunia music dan masuk ke dunia akting.
Di acara ini juga Ginanti Rona bercerita tentang bagaimana pengalamannya berkerja sama dengan sutradara asing atau luar. Menurutnya sutradara asing memiliki kebiasaan dan etiket kerja yang berbeda dengan yang ada di Indonesia. Mereka memiliki kebiasaan bekerja yang sangat baik sehingga menghasilkan produk film-film yang baik.
Brandon Salim bercerita tentang bagaimana ia mendalami arakter Dilan pada Film Dilan 1990. Ia bercerita bahwa untuk mendalami peran Dilan ia tidak main social media, ia tetap fokus untuk mendalami peran dengan sering mendengarkan music-musik tahun 1990an. Hal ini dilakukannya untuk fokus dan mendalami peran Dilan yang berlatar belakang tahun 90an.
Diakhir acara Ginanti Rona juga berbagi pengalamannya tentang bagaimana sulitnya membuat sebuah film dimana proses pembuatan, budget yang dikeluarkan, tetap kreatif dalam proses pembuatan, serta membuat karakter tetap fokus dalam peran merupakan tantangan tersendiri sebagai seorang sutradara.
Ia pun bercerita tentang bagaimana sutradara wanita di Indonesia yang sulit berkembang karena banyak stereotip dari masyarakat kita sendiri bahwa sutradara perempuan kurang baik dibandingkan dengan laki-laki. Ia pun juga kecewa terhadap kurangnya bioskop dan slot untuk penayangan film-film lokal karena bioskop kita dipenuhi dengan film-film luar. 
The Greatest Indonesia Show Movie



THOMAS KURNIAWAN
14150031
6PIK1

Komentar